Friday, January 5, 2018

Kota Tua Sarat Cerita, Surga Pecinta Wisata Berbeda

Kota Tua Jakarta

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian ketika mendengar kata “tua” di tengah hingar-bingar kehidupan kemodernan ? Jangan salah sangka dulu. Belum tentu yang tua itu selalu yang terlupa. Tak berlebihan rasanya jika ada pepatah mengatakan bahwa “old is gold” karena wisata kota tua yang ada di Indonesia ini, terbukti sangat layak untuk dikunjungi.

Bagai melompat keluar dari dunia modern yang serba penuh tuntutan, berwiasata ke kota tua seolah mengajak pengunjung menyelami kembali nilai-nilai kesederhanaan yang mendorong kita menjadi lebih arif dan bijaksana. Sambil wisata ke kota tua, mending sekalian cari daftar harga tiket pesawat murah ke kota yang masih mempertahankan kota tuanya.

Tempat-tempat ini pun cocok bagi kalian penganut old-fashioned lifestyle yang keranjingan berfoto. Lalu, dimana sajakah kota-kota tua tersebut tersembunyi?

  1. Kota Tua Jakarta
Mungkin kota tua yang satu ini sudah tak asing bagi mereka pecinta wisata kota tua. Mengingat letaknya yang berada di ibukota negara, tentu saja tak sulit untuk menjangkaunya. Banyak sekali  bangunan tua bergaya Eropa peninggalan masa penjajahan Belanda yang masih terawat dengan baik hingga saat ini tetap berdiri kokoh di wilayah seluas 846 hektar yang membentang dari Jakarta Utara ke Jakarta Selatan.

Dibatasi oleh pelabuhan Sunda Kelapa dibagian Utara, Gedung Candranaya sebagai batas Selatan, serta sungai sebagai batas Timur dan Barat, Kota Tua Jakarta memberikan pengalaman yang berbeda dari objek wisata lain wilayah ibukota. Uniknya, di kawasan Kota Tua Jakarta pengunjung tidak hanya bisa berburu foto di bangunan tua saja.

Bagi mereka yang tidak begitu menyukai foto-foto, bisa berkunjung ke beberapa objek pariwisata yang masih dalam satu kawasan dengan Kota Tua Jakarta. Objek pariwisata lain yang memadati kawasan bernuansa klasik ini antara lain Taman Fatahillah. Taman yang pada masa penjajahan VOC abad 18 berfungsi sebagai sumber air utama bagi masyarakat ini tentu bisa membawa pengunjung bernostalgia pada masa dimana Jakarta belum sebising saat ini.

Setelah mengunjungi taman, pengunjung juga bisa mengunjungi beberapa museum unik yang memamerkan koleksinya dengan sentuhan klasik yang memikat seperti, Museum Sejarah Jakarta yang beralamat di JL. Taman Fatahillah No. 1, Museum Wayang di JL. Pintu Besar Utara No. 27, Museum Seni Rupa dan Keramik di JL. Pos Kota No. 2. Selanjutnya, pengunjung juga bisa mengunjungi stasiun tua Beos yang memiliki banyak versi asal-usul namanya. Stasiun ini dulunya punya peran penting yang sebagai transportasi penghubung antara Jakarta dengan kota-kota disekitarnya.

Masih berhubungan dengan fasilitas umum zaman dulu, ada sebuah jembatan yang wajib anda kunjungi juga, yaitu: Jembatan Kota Intan. Jembatan kayu yang dibangun pada tahun 1628 ini memiliki banyak nama seiring perkembangannya. Keliling kota tua bisa sambil lihat di aplikasi kamu daftar harga tiket pesawat murah ke luar negeri sekaligus.

Pada awal pembangunannya, jembatan ini disebut Jembatan Inggris, kemudian VOC mengubahnya menjadi Middlepunt Burg yang berarti Jembatan Pusat. Sejak saat itu, setiap kali mengalami perbaikan, nama jembatan tersebut pun ikut berubah seperti Jembatan Pasar Ayam (1655), Jembatan Juliana (1938), hingga pada akhirnya saat kemerdekaan tiba nama tersebut berubah menjadi namanya saat ini karena menghubungkan kota Intan Timur dan Barat. Itu hanya beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi dalam kawasan Kota Tua Jakarta, dan masih banyak lainnya.

Buat yang mau keliling kota tua Jakarta, sebenarnya masih banyak tempat wisata lain misalnya kawasan Pecinan Glodok yang juga tak kalah menarik. Apalagi sembari menyusuri wisata kuliner legendarisnya. Nah, biar enggak kecapean di jalan iseng aja cek daftar hotel di Jakarta di Reservasi.com yang paling dekat dengan kota tua atau daerah pecinan Glodok supaya kamu gak perlu repot mau wisata ke kota tua tanpa harus cari angkutan yang terlalu jauh.

  1. Kota Tua Surabaya
Setelah mengulas menariknya kota tua di ibukota negara, kini mari beralih mengulik kota tua di Kota Pahlawan. Tak lengkap memang ketika mengunjungi kota Pahlawan tanpa mengenang kembali sejarahnya di masa lalu melalui saksi bisu berupa bangunan-bangunan tua yang masih berdiri dengan karismanya yang menggoda di kota tua Surabaya. Di kota ini, gedung-gedung tua peninggalan zaman penjajahan masih banyak yang berdiri kokoh tanpa adanya perubahan berarti dari segi bentuk dan pemanfaatannya.

Sebut saja, gedung pemerintahan gubernur Jawa Timur Gedung Negara Grahadi yang biasa disebut dengan Gedung Grahadi. Gedung yang berlamat di JL. Gubernur Suryo, Surabaya ini pada awal pembangunanannya hingga saat ini tetap digunakan sebagai gedung pemerintahan gubernur. Saat itu, pada zaman penjajahan Belanda Gedung Grahadi digunakan sebagai kantor Gouvernour kemudian berubah menjadi gedung Syuuco saat pendudukan Jepang, hingga saat ini disebut Gedung Grahadi.

Masih berkutat dengan gedung pemerintahan, siapa yang menyangka bahwa balai kota yang saat ini digunakan walikota kota Surabaya pun merupakan gedung peninggalan zaman penjajahan. Seperti Gedung Grahadi, gedung yang berada di JL. Walikota Mustajab, Suarabaya ini pun sejak awal pembangunan sudah digunakan sebagai kantor walikota. Awalnya, gedung yang dibangun pada tahun 1923 ini oleh penjajah Belanda disebut sebagai Staadhuis te Soerabaia yang difungsikan sebagai kantor walikota. Seiring perkembangan zaman, gedung ini tidak mengalami perubahan fungsi yang hingga saat ini masih berfungsi dengan baik sebagai kantor walikota.

Tak hanya bisa menikmati gedung-gedung tua saksi sejarah soal pemerintahan yang tentu saja tidak bisa dengan leluasa dijelajahi karena mashi berfungsi sebagaimana mestinya, di kota tua ini pengunjung bisa berburu foto epik di beberapa spot unik yang menarik seperti di Jl. Gula. Meski kondisi bangunan-bangunan tua disini tidak begitu terawat karena sudah tidak difungsikan lagi, lokasi ini jadi tempat favorit untuk pre-wedding.

0 comments:

Post a Comment