Monday, February 15, 2010

Saturday, February 13, 2010

Film Avatar

James Cameron memang orang
gila yang suka bikin sensasi
dengan budget film-filmnya. Di
tahun 1991, dia adalah orang
pertama yang membuat film
berbudget 100 Juta USD lewat
Terminator 2: Judgement Day.
Di tahun 1997 lagi-lagi orang
dibuat dia terperangah dengan
membuat film berbudget 200
Juta USD lewat Titanic. Setelah
Titanic memecahkan semua
rekor box office dan masih
berdiri sebagai film terlaris
sepanjang masa hingga kini (12
tahun setelah filmnya dirilis),
Cameron turut vakum lama dari
dunia perfilman, padahal
sebenarnya ketika Titanic sukses,
rumor mengenai Avatar sudah
mencuat sebelum kemudian
proyek ini ditangguhkan oleh
Cameron sendiri yang merasa
bahwa teknologi saat itu belum
cukup untuk menghidupkan
visinya.
Tahun demi tahun berlalu,
Cameron mencermati
perkembangan teknologi dunia
film yang menghasilkan Gollum
melalui trilogi Lord of the Rings,
King Kong, sampai Davy Jones di
Pirates of the Caribbean. Di
samping itu, ia sendiri juga aktif
menciptakan sebuah teknologi
kamera 3D. Ketika film ini mulai
aktif digarap lagi, rumor terus
bermunculan mengenai kapan ia
akan dirilis. Tadinya hendak
dirilis di tahun 2007, film ini
dimundurkan rilisnya ke 2008,
dan akhirnya Mei 2009. Seakan
ingin mengulang
keberuntungannya dengan
Titanic (yang jadwal rilisnya juga
dipindah dari Summer 1997 ke
Winter 1997), Avatar lagi-lagi
dipindahkan jadwalnya menjadi
Desember 2009.
Trailer-trailer pendek sampai
pertunjukan spesial Avatar
(sepanjang 16 menit) terus
mendapat pergunjingan orang.
Beberapa menilainya secara
positif, beberapa khawatir
Cameron cuma bakalan main
efek saja di film ini. Toh ketika
film ini ditonton para kritikus,
tanggapan mereka hampir seiya
sekata. Avatar adalah film yang
harus kalian tonton dan kalian
alami sendiri. Dan itu jugalah
alasan kenapa pada pagi ini saya
langsung meluncur ke kota
Jogjakarta demi menontonnya.
Apakah Avatar berhasil memukau
saya dengan budget sampai 300
Juta USD yang dikucurkan demi
membuatnya?
Di tahun 2154, kita sudah tahu
bahwa kita tidak lagi sendiri.
Sebuah perusahaan bahkan
sudah menemukan sebuah
mineral yang sangat berharga di
sebuah planet nun jauh di sana
bernama Pandora. Di sana,
kedatangan manusia tidak
langsung disambut baik oleh
penduduk setempat bernama
Na ’vi. Manusia ingin mengambil
mineral melimpah yang
celakanya tertimbun tepat di
bawah tempat pemukiman para
suku Na ’vi. Dalam organisasi
manusia sendiri terdapat dua sisi
pendekatan terhadap para Na ’vi.
Para militan di bawah pimpinan
Kolonel Quatrich ingin
mengambil cara yang paling
cepat dan efektif dengan
mengganyang para Na ’vi
memakai senjata mereka.
Sebaliknya, para ilmuwan di
bawah pimpinan Dr. Grace
Augustine berusaha melakukan
pendekatan sosial dengan
mengajarkan mereka bahasa
Inggris bahkan menciptakan
sebuah sistem bernama Avatar.
Avatar adalah sosok makhluk
campuran dari DNA manusia dan
DNA Na ’vi yang bisa dipakai oleh
manusia yang memiliki gen
sama. Sebuah pengendali Avatar
bernama Tony meninggal setelah
dirampok orang sehingga
saudara kembarnya Jake Sully-lah
yang mengambil tanggung
jawab untuk ke planet Pandora
menjadi pengendali Avatar.
Bedanya dengan yang lain, Jake
Sully adalah mantan marinir yang
kedua kakinya lumpuh karena
perang. Sadar bahwa Jake
memiliki latar belakang militer
yang sama dengannya, Kolonel
Quatrich meminta Jake untuk
tidak sekedar menjalin
persahabatan dengan para Na ’vi,
tetapi juga menjadi mata-mata
yang memberi mereka informasi
mengenai kelemahan para Na ’vi.
Seiring dengan berlalunya waktu,
Jake pun makin jatuh cinta
kepada dunia Pandora dan suku
Na ’vi. Siapa yang harus ia dukung
ketika perang antara keduanya
tak bisa terelakkan?
Kalau kalian merasa bahwa cerita
ini familiar, jangan heran. Bila
disuruh meringkas Avatar, saya
akan mengatakan bahwa ini
adalah Dance with the Wolves
atau The Last Samurai atau
Pocahontas yang tidak lagi
bersetting di dunia ini tetapi di
luar angkasa sana. Kesamaannya
sungguh kentara. Seorang yang
berasal dari pihak yang
menginvasi kemudian
merasakan hidup bersama
dengan pihak yang diinvasi dan
akhirnya berubah menjadi sang
pemimpin untuk memberontak
balik. Kita semua tahu kisah klise
itu, tetapi di tangan Cameron
semua masih bisa terasa cukup
orisinil untuk ditonton lagi.
Cameron juga masih seorang
sutradara yang piawai mengatur
tempo film. Di awal film kita
diajak untuk berkenalan melihat
dunia Pandora. Temponya dirasa
oleh banyak orang (bahkan oleh
teman yang bersamaku nonton)
lambat, tetapi Cameron
sebenarnya tengah menyisipkan
begitu banyak detail dunia
Pandora di dalamnya. Dan ketika
peradaban itu mendapatkan
serangan di pertengahan film,
penonton pun ikut terharu
karena merasa bahwa Pandora
sudah merupakan dunia yang
mereka kenal. Itulah bedanya
Cameron dengan Michael Bay
atau Roland Emmerich. Ia
memberi kita sebuah alasan
untuk peduli pada karakter dan
dunia di dalamnya.

pokoknya rugi bgt kalo ga nonton film yg satu ini, apalagi bagi kita2 yg kul di IT.
AYEAD.BLOGSPOT.COM

Thursday, January 28, 2010

CARA MENINGKATKAN PAGERANK DENGAN MUDAH(TERTBUKTI)

Tips ini saya ambil dari blog lain setelah saya bersurfing dengan mozzila. trick ini dapat menaikan traffic blog milik kita hanya dengan copy paste.
cara ini menggunakan sistem MLM, tapi ini bukan berjualan namun hanya menerapkan cara MLM tersebut saja agar blog kita makin banyak dikunjungi.