Monday, October 20, 2008

LALAT

DAh..pernah blum pas kita lagi asyik-ASYIKNYA minum tiba-tiba ada lalat yang masuk minuman kita? nah kalo udah begini biasanya minumannya langsung dibuang atau lalatnya yang dibuang kan??? padahal neh menurut info yang kudapat dari Sumber terpercaya minumannya/lalatnya jangan langsung dibuang tapi, kalau lalatnya itu baru setengah badannya aja yang masuk ke air....LU masukin aja tuh sekalian lalatnya ke air.....karena menurut hadis NAbi"sebagian dari sayap lalat itu adalah racun dan sebagian nya lagi adalah penawarnya" nah ini dah di teliti para dokter n emang terbukti......so lain kali kalo ada lalat yang masuk ke minuman kita kita jangan bimbang n ragu langsung aza tuh lalat dicelupin ,,,,,,,,,]
okey......???????
by ayead ImageChef.com - Custom comment codes for MySpace, Hi5, Friendster and more

Thursday, October 16, 2008

Wednesday, October 8, 2008

APA SIH ARTI ISLAM ITU SENDIRI

zwani.com myspace graphic comments
Myspace Islam Graphics




Arti Nama Islam
September 3rd, 2007 | Essay Kalee

Di antara keistimewaan agama Islam adalah namanya. Berbeda dengan agama lain, nama agama ini bukan berasal dari nama pendirinya atau nama tempat penyebarannya. Tapi, nama Islam menunjukkan sikap dan sifat pemeluknya terhadap Allah.

Yang memberi nama Islam juga bukan seseorang, bukan pula suatu masyarakat, tapi Allah Ta’ala, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Jadi, Islam sudah dikenal sejak sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. dengan nama yang diberikan Allah.

Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai). Semua pengertian itu digunakan Alquran seperti di ayat-ayat berikut ini.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (An-Nisa’: 125)

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83)

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’araa’: 89)

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum (Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu).” Tuhanmu Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’am: 54)

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu. (Muhammad: 35)

Sementara sebagai istilah, Islam memiliki arti: tunduk dan menerima segala perintah dan larangan Allah yang terdapat dalam wahyu yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul yang terhimpun di dalam Alquran dan Sunnah. Manusia yang menerima ajaran Islam disebut muslim. Seorang muslim mengikuti ajaran Islam secara total dan perbuatannya membawa perdamaian dan keselamatan bagi manusia. Dia terikat untuk mengimani, menghayati, dan mengamalkan Alquran dan Sunnah.

Kalimatul Islam (kata Al-Islam) mengandung pengertian dan prinsip-prinsip yang dapat didefinisikan secara terpisah dan bila dipahami secara menyeluruh merupakan pengertian yang utuh.

1. Islam adalah Ketundukan

Allah menciptakan alam semesta, kemudian menetapkan manusia sebagai hambaNya yang paling besar perannya di muka bumi. Manusia berinteraksi dengan sesamanya, dengan alam semesta di sekitarnya, kemudian berusaha mencari jalan untuk kembali kepada Penciptanya. Tatkala salah berinteraksi dengan Allah, kebanyakan manusia beranggapan alam sebagai Tuhannya sehingga mereka menyembah sesuatu dari alam. Ada yang menduga-duga sehingga banyak di antara mereka yang tersesat. Ajaran yang benar adalah ikhlas berserah diri kepada Pencipta alam yang kepada-Nya alam tunduk patuh berserah diri (An-Nisa: 125). Maka, Islam identik dengan ketundukan kepada sunnatullah yang terdapat di alam semesta (tidak tertulis) maupun Kitabullah yang tertulis (Alquran).

2. Islam adalah Wahyu Allah

Dengan kasih sayangnya, Allah menurunkan Ad-Dien (aturan hidup) kepada manusia. Tujuannya agar manusia hidup teratur dan menemukan jalan yang benar menuju Tuhannya. Aturan itu meliputi seluruh bidang kehidupan: politik, hukum, sosial, budaya, dan sebagainya. Dengan demikian, manusia akan tenteram dan damai, hidup rukun, dan bahagia dengan sesamanya dalam naungan ridha Tuhannya (Al-Baqarah: 38).

Karena kebijaksanaan-Nya, Allah tidak menurunkan banyak agama. Dia hanya menurunkan Islam. Agama selain Islam tidak diakui di sisi Allah dan akan merugikan penganutnya di akhirat nanti.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali Imran: 19)

Islam merupakan satu-satunya agama yang bersandar kepada wahyu Allah secara murni. Artinya, seluruh sumber nilai dari nilai agama ini adalah wahyu yang Allah turunkan kepada para Rasul-Nya terdahulu. Dengan kata lain, setiap Nabi adalah muslim dan mengajak kepada ajaran Islam. Ada pun agama-agama yang lain, seperti Yahudi dan Nasrani, adalah penyimpangan dari ajaran wahyu yang dibawa oleh para nabi tersebut.

3. Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul

Perhatikan kesaksian Alquran berikut ini bahwa Nabi Ibrahim adalah muslim, bukan Yahudi atau pun Nasrani.

Dan Ibrahim Telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

Nabi-nabi lain pun mendakwahkan ajaran Islam kepada manusia. Mereka mengajarkan agama sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad saw. Hanya saja, dari segi syariat (hukum dan aturan) belum selengkap yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Tetapi, ajaran prinsip-prinsip keimanan dan akhlaknya sama. Nabi Muhammad saw. datang menyempurnakan ajaran para Rasul, menghapus syariat yang tidak sesuai dan menggantinya dengan syariat yang baru.

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan Hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” (Ali Imran: 84)

Menurut pandangan Alquran, agama Nasrani yang ada sekarang ini adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Isa a.s. Nama agama ini sesuai nama suku yang mengembangkannya. Isinya jauh dari Kitab Injil yang diajarkan Isa a.s.. Agama Yahudi pun telah menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Musa a.s.. Diberi nama dengan nama salah satu Suku Bani Israil, Yahuda. Kitab Suci Taurat mereka campur aduk dengan pemikiran para pendeta dan ajarannya ditinggalkan.

4. Islam adalah Hukum-hukum Allah di dalam Alquran dan Sunnah

Orang yang ingin mengetahui apa itu Islam hendaknya melihat Kitabullah Alquran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya, menjadi sumber nilai dan sumber hukum ajaran Islam. Islam tidak dapat dilihat pada perilaku penganut-penganutnya, kecuali pada pribadi Rasulullah saw. dan para sahabat beliau. Nabi Muhammad saw. bersifat ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dalam mengamalkan Islam.

Beliau membangun masyarakat Islam yang terdiri dari para sahabat yang langsung terkontrol perilakunya oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi, para sahabat Nabi tidaklah ma’shum bagaimana Nabi, tapi mereka istimewa karena merupakan pribadi-pribadi dididik langsung Nabi Muhammad. Islam adalah akidah dan ibadah, tanah air dan penduduk, rohani dan amal, Alquran dan pedang. Pemahaman yang seperti ini telah dibuktikan dalam hidup Nabi, para sahabat, dan para pengikut mereka yang setia sepanjang zaman.

5. Islam adalah Jalan Allah Yang Lurus

Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup bagi seorang muslim. Baginya, tidak ada agama lain yang benar selain Islam. Karena ini merupakan jalan Allah yang lurus yang diberikan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Al-An’am: 153)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui. (Al-Jaatsiyah: 18)

6. Islam Pembawa Keselamatan Dunia dan Akhirat

Sebagaimana sifatnya yang bermakna selamat sejahtera, Islam menyelamatkan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Keselamatan dunia adalah kebersihan hati dari noda syirik dan kerusakan jiwa. Sedangkan keselamatan akhirat adalah masuk surga yang disebut Daarus Salaam.

Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus: 25)

Dengan enam prinsip di atas, kita dapat memahami kemuliaan dan keagungan ajaran agama Allah ini. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya.” Sebagai ajaran, Islam tidak terkalahkan oleh agama lain. Maka, setiap muslim wajib meyakini kelebihan Islam dari agama lain atau ajaran hidup yang lain. Allah sendiri memberi jaminan.

Kesimpulan

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maa-idah: 3)
Islam adalah sistem hidup yg sempurna,yang mengatur seluruh kehidupan, dari pengaturan negara sampai cara memotong kuku, namun seberapa persen muslimin yg mengetau arti makna dan sistem hidup ini, marilah kita bersama untuk saling menggali kemulyaan islam ini agar kembali jaya di dunia sejaya beberapa abad yg lalu.


sumber: http://achmad.web.id/2007/09/03/arti-nama-islam/

KEleBIhan ISLAM DIBanding Agama lain


Kelebihan umat islam dari umat yang lain

(3:110)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

(3:111)

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.

(3:112)

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia [218], dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu [219] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu [220] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

(3:113)

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus [221], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).

(3:114)

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

(3:115)

Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
1


sumber:http://www.geocities.com/CapeCanaveral/3304/html/adzd8f5a.htm

Bangsa Kita dan Pembiaran Kekerasan



Oleh: Abdurrahman Wahid
Yogya TV (YTV) secara rutin menayangkan siaran tunda acara Kongkow Bareng Gus Dur (KBGD). Acara yang disiarkan langsung tiap Sabtu pagi jam 10 oleh Radio 68H dari Kedai Tempo, Utan Kayu, ini juga ditayangkan 13 stasiun televisi lokal. Nah, minggu lalu YTV mendapatkan telpon dari orang yang mengaku sebagai Pengurus Front Pembela Islam (FPI) dan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) daerah Yogyakarta. Orang itu mengatakan kepada YTV agar tidak menayangkan lagi KBGD. Alasan yang digunakan, karena dalam salah satu siaran itu, penulis bergurau dengan menyatakan sebab terjadinya gempa bumi di daerah Bantul adalah karena Nyai Ratu Kidul dipaksa mengenakan jilbab oleh Ketua FPI Habib Riziq. Ini berarti, menurut penelpon tadi, Habib Riziq telah dihina oleh Gus Dur dengan lelucon tersebut. Itulah sebab munculnya permintaan berbentuk ancaman dari pengikut Habib Riziq itu.

Mengapa penulis menyampaikan hal tersebut? Karena penulis sudah muak dengan sikap main hakim sendiri dari tokoh tersebut dan anggotanya. Karena ketidakberanian pemerintah untuk menindak FPI dan tokoh tersebut, maka sikap mereka semakin menjadi kurang ajar. Main ancam dan tindakan main hakim sendiri adalah ciri pokok mereka yang harus kita hadapi sebagai bangsa. Padahal FPI itu melanggar undang-undang, yang jelas menyatakan bahwa membawa senjata di muka umum dan merusak milik orang lain adalah pelanggaran hukum. Karena itulah kejengkelan pun semakin lama semakin bertumpuk.

Itulah penyebab sindiran yang dimaksudkan oleh penulis. Tapi bukannya mencari maksud sindiran penulis, FPI malah dengan arogan mengeluarkan ancaman kepada YTV. Sikap yang buruk itu masih diikuti oleh ‘penilaian’ seorang pimpinan lokal FPI Yogyakarta, yang menyatakan bahwa penulis hanya diikuti satu persen saja dari keseluruhan kaum muslimin di negeri ini. Sisanya mengikuti jalan pikiran FPI. Penulis sendiri terheran-heran dengan pernyataan tersebut. Dengan demikian, mereka menganggap kaum muslimin di negeri ini begitu tololnya.

Ini adalah mispersepsi yang timbul dari kurangnya pengetahuan akan kenyataan-kenyataan obyektif perkembangan sejarah Islam di negeri ini. Mereka mengulang-ulang bahwa Islam lebih maju daripada agama-agama lain, padahal penulis artikel ini yakin akan kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW bahwa “ al-islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih ” (Islam itu unggul dan tidak terungguli).” Namun karena keyakinan itu maka penulis tidak perlu meremehkan agama-agama lain.

Karena ‘sikap terbuka’ itu maka penulis artikel ini dengan santai menunjukkan penghormatan kepada penganut agama lain yang ada di negeri kita. Sebagai mayoritas kaum beragama, kaum muslimin di negeri ini sebaiknya melindungi agama lain itu. Hal ini yang justru menunjukkan kekuatan Islam yang sebenarnya.

Umat Islam seperti inilah yang patut disebut umat yang dewasa. Seorang dewasa akan memuji dan melindungi si anak dan tidak akan memaksanya untuk menjadi seorang dewasa. Dengan tidak menghardik si anak, orang justru akan dinilai bijaksana dan menunjukkan kedewasaan. Kelembutan dianggap jauh lebih bernilai. Dan orang yang berbudi luhur dikenal karena memiliki kekuatan tapi tidak pernah digunakan untuk kekerasan. Seperti dua orang pesilat Cina, yang berputar-putar di atas kotak gelangang. Begitu keduanya beradu kekuatan, maka yang lebih besar tenaga dalamnya, tanpa memforsir tenaga fisiknya, yang akan menang. Dari teriakan masing-masing sudah dapat diketahui siapa yang memiliki tenaga dalam (lweekang) paling tinggi. Inilah cara yang diperlihatkan seorang pandai, berbeda dengan seorang bodoh dan lemah.

Masalah yang sangat mendasar dalam hal ini adalah, apa yang harus diperbuat oleh seorang muslim yang cinta kepada agamanya? Haruskah ia menyatakan dengan jelas dan terbuka akan ‘kelebihan’ Islam? Bagi mereka yang tidak benar-benar yakin ‘kelebihan’ Islam atas agama-agama lain tentu kelebihan itu haruslah dinyatakan secara berulang-ulang. Dengan berbuat demikian, berarti ia memposisikan Islam sebagai alternatif bagi agama-agama lain itu. Sebaliknya mereka yang benar-benar memahami kebesaran Islam tentu akan bersikap lebih menghargai agama lain dan tidak ‘takut’ bergaul dengan penganut agama lain.

****

Ketika kemudian FPI Yogyakarta meyampaikan permintaan kedua kepada manajemen YTV yang meminta supaya permintaan pertama itu dianggap tidak ada, maka jelas ini adalah koreksi atas sikap pertama yang meminta acara KBGD dihentikan. Ini masih lumayan, karena menunjukkan kemampuan menggambil sebuah tindakan korektif di kalangan kedua organisasi tersebut. Ataukah karena ‘peringatan halus’ dari Kapolri agar aksi kelompok itu tidak merugikan siapapun, termasuk dengan pihak penulis artikel ini. Bukankah ini menujukkan sikap setengah-setengah dari pihak Kapolri yang segan membubarkan kelompok-kelompok yang gemar menebar kekerasan dan ketakutan? Jika memang demikian hal itu, berarti benar anggapan orang bahwa kepolisian di masa lalu ada kaitannya dengan pendirian FPI?

Kenyataan-kenyataan inilah yang terjadi dalam sejarah obyektif bangsa kita. Jika kita tidak melakukan koreksi, berarti kita mengorbankan ‘obyektifitas’ sejarah kita sebagai bangsa? Entahlah, penulis artikel ini sendiri takut akan konsekuensi sikap mengemukakan obyektifitas sejarah bangsa itu. Berat konsekuensi sikap benar seperti itu, bukan?

Jakarta, 9 Oktober 2007

Artikel
BELAJAR DARI SEMUT



Di zaman saat ini kita harus mau mengakui bahwa salah satu penyebab utama krisis multidimensional yang menimpa bangsa ini adalah adanya sikap individual dari tiap-tiap komponen bangsa. Di setiap tingkatan sosial, baik itu rakyat jelata, buruh, pengusaha, sampai pejabat tinggi pemerintahan selalu ditemukan sikap individual yang membuat keutuhan Bangsa Indonesia semakin rentan. Sikap sikut menyikut, saling menjatuhkan kepentingan pribadi maupun golongan, serta berbagai perbuatan individualisme lainnya sudah menjadi menu utama di media massa kita. Bahkan sebuah media massa sebagai penyedia informasi yang punya pengaruh besar terhadap sikap masyarakat kita, masih sering menampakkan individualisme-nya melalui bias berita yang disajikan.
Sejarah nasional bangsa kita sudah berulang kali mencatat bahwa perjuangan baru akan berhasil bila di dalamnya terdapat persatuan, kesatuan, serta pengorganisasian yang kuat, tidak bergantung pada jumlah yang banyak. sebuah pepatah Arab mengatakan, “Al-katsiiru bi ghairi nidzaamin, yaghlibuhu al-qaliilu bi an-nidzaami” (jumlah yang banyak tetapi tanpa aturan, akan dikalahkan mereka yang sedikit tapi teratur). Senada dengan pepatah tersebut, Sun Tzu dalam “Art of War”-nya menyatakan, “Kekuatan suatu tentara tidak tergantung dari pasukan yang besar. Jangan maju hanya karena pasukan yang besar saja”.
“Jika ada propaganda, bikin dong propaganda yang lebih canggih!”, pernyataan KH. Abdurrahman Wahid ini menjadi inspirasi saya dalam membantu menemukan salah satu solusi untuk menyatukan bangsa. Jika dahulu Bung Karno pernah menyerukan, “Jadilah ‘Bangsa Tempe’!” , kepada bangsa ini untuk membangun bangsa yang kuat, maka dalam kaitannya dengan hal ini saya ingin menandinginya dengan seruan: “Jadilah ‘Bangsa Semut’!”. Pengubahan kata ‘tempe’ menjadi ‘semut’ yang saya lakukan tentu memiliki cukup alasan, bukti, dan kajian. Namun secara sederhana dapat dikatakan bahwa serangga yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam kitab suci umat Islam (surat An-Naml) ini merupakan makhluk paling sosio ekonomis dengan “peradaban” yang sangat maju. Di samping itu, keberadaan semut ini sendiri sering dianggap remeh oleh manusia. Padahal hewan yang sekali injak langsung mati ini, merupakan populasi tertinggi di dunia (dengan rasio setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia ini, hanya terdapat 40 kelahiran manusia). Dan fakta yang lebih menakjubkan bagi bangsa ini adalah: dalam banyak hal kita telah dikalahkan semut!

Civil Society ala Semut

Antonio Gramsci dalam karyanya “Prison Notebooks” (1971), yang menganggap bahwa civil society sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan ataupun aturan-aturan formal, meski tetap mengandung unsure rekayasa, seperti lazimnya institusi politik. kalangan modernis Islam mengambil model masyarakat civil society dari kehidupan masyarakat Madinah zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Model masyarakat inilah yang kemudian disebut sebagai model masyarakat madani, yaitu masyarakat berperadaban (madaniyah) karena tunduk dan patuh (daana-yadiinu) pada ajaran kepatuhan (diin) yang dinyatakan dalam supremasi hukum dan peraturan.
Namun jauh sebelum itu, jutaan tahun sebelum teori-teori tentang civil society dan masyarakat madani muncul, Sang Pencipta Semesta telah menciptakan sebuah model alam yang akan menjadi sebuah contoh dan pelajaran yang berharga bagi umat manusia: semut! Dan ini terbukti bahwa semut-semut selama jutaan tahun telah menjalani sistem social yang ideal dan bertentangan dengan tatanan masyarakat manusia yang didasarkan pada persaingan dan kepentingan individu.
Serangga yang jumlah spesies-nya mencapai angka 14.000-an ini mengajarkan kepada kita memahami perbedaan sebagai nilai positif, rahmat Tuhan. Yang menarik dari kehidupan semut adalah cara hidupnya dengan berkoloni, dimana dalam koloni tersebut terdapat pembagian kasta yang masing-masing mempunyai fungsi untuk mendukung kelangsungan hidup koloninya. Sistem kasta ini terbagi atas tiga bagian besar. Dan yang lebih mengherankan adalah setiap anggota koloni semut, tanpa terkecuali, tunduk pada sistem ini. Di dalam tiga bagian besar kasta yang terdiri dari ratu dan semut-semut jantan, prajurit, dan pekerja ini tidak ditemukan adanya ranta komando antara yang satu dengan yang lainnya. Tugas-tugas terumit dalam masyarakat ini terlaksana karena adanya organisasi diri yang sangat canggih.
Di samping organisasi diri, dalam hal pengorbanan semut benar-benar mampu menunjukkan pengorbanan tingkat tinggi. Setiap semut menjalankan tugas sesuai kedudukan masing-masing tanpa merasa iri dengan tugas yang dilakukan semut dalam kasta yang berbeda. Semut juga mampu memberi segala miliknya, dari makanan hingga nyawa tanpa merasa ragu, agar semut lain tetap hidup.

Komunikasi dan Tehnologi

Perkembangan geopolitik internasional tidak lagi sebatas pendekatan ideologis, tapi sudah berkembang menjadi pendekatan informasi dan penetrasi pasar. Dan semut sebagai makhluk social pun telah “memahami” arti penting informasi dan komunikasi antar sesama. Dari menemukan mangsa, bertarung, membangun sarang, hingga gerakan saling mengikuti, hewan arthropoda ini banyak menggunakan isyarat kimiawi sebagai alat komunikasi. Dengan men-sekresi-kan sejumlah senyawa semiokemikal berupa feromon dari tubuhnya, semut bisa memberikan beberapa isyarat yang berbeda kepada sesamanya.
Di samping kecanggihan komunikasi, semut juga dianugerahi kecanggihan dalam bidang tehnologi arsitektur dan pertanian. Contoh dari ketinggian tehnologi arsitekturnya semut terdapat pada seni pembuatan sarangnya. Bangsa manusia untuk meniru pembuatan bangunan model sarang semut ini, cukup memakan sebagian besar usia manusia untuk menghimpun informasinya saja. Sebab dalam sarang ini terdapat pola keruangan yang terdiri dari banyak labirin ruang-ruang, dimana di dalamnya termasuk petak-petak perkebunan jamur, gudang makanan, pembuangan limbah, saluran sirkulasi udara, dan gua-gua dengan terowongan yang membentuk jalan sabuk sekitar 7,5 meter dari sarang. Dengan terowongan-terowongan ini beberapa “markas” semut bisa terhubung menjadi semacam kota metropolis bawah tanah.
Belum cukup kita dibuat terkagum-kagum dengan tingginya ilmu kimia, arsitek, dan pertanian semut, binatang dengan setengah juta sel syaraf dalam 2-3 milimeter tubuhnya ini juga memiliki kecanggihan biologis dalam tubuhnya. Contoh yang paling mudah dalam semua koloni semut adalah kecanggihan alat perkembangbiakan yang dimiliki setiap ratu semut. Meski setiap pejantan akan mati beberapa jam hingga beberapa hari setelah perkawinan, namun ratu semut bisa membuahkan keturunan dari sperma sang pejantan tadi walaupun telah mati bertahun-tahun. Padahal normalnya sperma makhluk hidup lainnya akan mati beberapa saat jika tidak segera bertemu dengan sel telur.
Dari fenomena inilah para ahli entimologi dan ilmuwan lainnya baru mulai memikirkan bank sperma manusia lima puluh tahun yang lalu. Padahal sejak zaman prasejarah, setiap ratu semut memiliki “bank sperma” yang berupa kantong oval bernama spermatheca. Dalam spermatheca inilah sperma semut pejantan dinonaktifkan secara fisiologis selama bertahun-tahun, dan kelak sang ratu akan mengeluarkan ke saluran reproduksinya.
Berbagai kehebatan semut yang terangkum dalam “The Miracle in The Ant”-nya Harun Yahya, menimbulkan berbagai pemikiran hebat tentang konsep tekhologi masa depan manusia. Meskipun secara individual semut tidak secanggih manusia, karena mereka hanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun kekalahan semut ini akan tertutupi jika mereka bekerja sama. Hidup dan kerja sama dalam koloni semut rupanya juga telah mempengaruhi NASA! Rencananya, organisasi ini akan mengirimkan banyak “robot semut” ke planet Mars daripada mengirimkan satu robot canggih. Jadi, meski sebagian robot rusak, robot lain yang tersisa akan mampu merampungkan tugas mereka.

Masya Allah… ternyata teknologi manusia tidak lebih dari sekedar teknologi semut!

Tehnik Bertahan

Semut mampu bertahan dari berbagai ancaman yang membahayakan kelangsungan hidupnya dengan cara bekerja sama. Dalam bertahan ini, semut mempunyai berbagai tehnik dan “siasat perang”. Mulai dari spesies yang bernama Basiceros yang merupakan “ahli kamuflase” dengan menentukan karakter fisiologisnya sendiri untuk bertahan, hingga Componotous yang rela meledakkan tubuhnya sendiri demi menyelematkan teman satu koloninya. Mulai dari “tehnik sensus” untuk mengukur kekuatan musuh, hingga “tehnik blockade” untuk memastikan kemenangannya. Seolah-olah semut ini memahami berbagai kaidah penilaian medan, kepemimpinan, dan keunggulan strategis lawan yang disampaikan oleh Sun-Tzu.
Semut-semut ini juga mengenal tehnik diplomasi untuk tetap bisa survive. Seperti layaknya hewan yang lain, mereka juga melakukan simbiosis untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Mulai dari pohon akasia, hingga serangga daun menjadi model pembelajaran kita dalam memahami bagaimana sebuah kerja sama dapat menjadi keunggulan suatu bangsa. Yang pasti, semut-semut ini telah begitu banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana sebuah bangsa yang yang terdiri dari elemen-elemen yang hanya melakukan tugas sederhana namun mampu menjadi bangsa yang kokoh. Bahkan jika konsep hidup ala semut ini diterapkan di Indonesia, mungkin akan segera menghapus stereotip “Orang Jepang berkeringat karena mereka berpikir, orang Amerika berkeringat karena mereka bekerja keras, dan orang Indonesia berkeringat karena selesai makan!”.

Menarik! Semut yang tidak pernah mengikuti mata kuliah sosial-politik, arsitektur, kimia, biologi, dan pertanian ini mampu menjadi nasehat alamiah kepada bangsa Indonesia untuk segera bersatu dan merapatkan barisan kembali.



Sumber: http://www.ukkiunesa.com/index.php?subaction=showfull&id=1217952787&archive=&start_from=&ucat=5&